JAWDAT 2.0 | Jangan Membangun Tech Startup di Indonesia
15831
post-template-default,single,single-post,postid-15831,single-format-standard,bridge-core-1.0.2,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-child-theme-ver-1.0.0,qode-theme-ver-18.0.4,qode-theme-bridge,disabled_footer_bottom,wpb-js-composer js-comp-ver-5.7,vc_responsive
 

Jangan Membangun Tech Startup di Indonesia

Jangan Membangun Tech Startup di Indonesia

“A startup is an organization formed to search for a repeatable and scalable business model”
— Steve Blank 

Definisi lepas dari Tech Startup adalah perusahaan yang menghasilkan dan menjual produk teknologi, bisa dalam bentuk software, hardware, atau keduanya, yang sedang mencari model bisnis yang berulang dan bisa dikembangkan. Banyak perusahaan besar hari ini seperti Google yang memulai sebagai startup selama bertahun-tahun, dan walau sudah memiliki produk yang dipakai banyak orang waktu itu, tapi baru menjadi perusahaan yang stabil setelah menemukan model bisnis yang bisa menghasilkan profit yang cukup untuk membiayai jalannya perusahaan tanpa harus mengandalkan suntikan modal dari investor.

Selama masih berstatus startup, perusahaan berfokus di dua hal:

1. Membuat produk bagus yang mau digunakan oleh banyak orang, yang disebut user
2. Menemukan cara untuk mendapat pemasukan dari produk tersebut, bisa dengan cara meminta bayaran langsung dari user atau dengan cara lain. Misalnya Google mendapat pemasukan dari bisnis iklan, atau lebih tepatnya targeted advertising, dengan memanfaatkan data-data dari user produk mereka agar pemasang iklan bisa mendapat target yang tepat

Beberapa perusahaan tech startup di dunia yang mengubah pola hidup orang banyak, misalnya Uber yang melakukan revolusi di transportasi membuat orang tidak perlu untuk memiliki mobil pribadi, atau Airbnb yang membuat setiap orang bisa menyewakan rumahnya. Dua perusahaan ini adalah contoh dari “decacorn” yaitu perusahaan yang di valuasi bernilai lebih dari $10 milyar. Valuasi adalah berapa nilai perusahaan oleh pasar, yang dilihat dari berapa besar investasi uang yang masuk dari investor untuk membeli sebagian saham perusahaan. Nilai perusahaan oleh pasar tidak selalu menggambarkan model bisnis yang sebenarnya, misal Uber sebagai decacorn sampai awal 2018 masih belum menghasilkan profit.

Indonesia pun sudah memiliki beberapa “unicorn” yaitu perusahaan yang di valuasi bernilai lebih dari $1 milyar, seperti Go-Jek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak. Perusahaan-perusahaan ini juga mengubah pola hidup banyak orang di Indonesia mulai dari food delivery sampai ke cara kita berbelanja berbagai barang, dan para pendirinya bisa masuk ke dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia versi Globe Asia.

Tidak semua tech startup bisa sukses. Banyak yang bahkan sudah mencapai unicorn tapi akhirnya tutup. Ada yang menyebutkan 90% startup pasti gagal. Namun kesempatan untuk bisa melakukan inovasi yang membuat manfaat yang besar buat banyak orang, menjadi bagian dari 10% startup yang sukses, dengan bonus bagi para pendirinya untuk bisa sukses juga secara finansial, seharusnya membuat lebih banyak orang di Indonesia yang tertarik untuk membangun Tech Startup.

Tulisan ini mencoba mengulas singkat mengapa tidak perlu melakukan itu, dengan menggunakan contoh yang dilakukan oleh Jawdat Teknologi Indonesia.

Hidup Dengan Misi

“Your mission, should you choose to accept it, is to put Indonesia in world’s technology map”
— Jawdat’s Mission 

Dari awal didirikan Jawdat sudah memiliki misi untuk berkompetisi di pasar global dan mensejajarkan diri dengan perusahaan-perusahaan asing besar di bidang Teknologi Informasi. Dimulai dengan menyediakan jasa konsultasi dan pelatihan sampai menjadi penyedia solusi dan membuat produk software sendiri memanfaatkan talenta-talenta muda Indonesia. Membuat produk sendiri adalah cara memperkecil gap skill digital yang dimiliki oleh bangsa kita dengan bangsa lain, sampai pada akhirnya kita mampu menyamai bahkan melampaui mereka.

Berbeda dengan startup unicorn Indonesia yang berfokus di teknologi untuk consumer langsung (B2C), Jawdat menggunakan model bisnis B2B dengan fokus market hari ini di operator telekomunikasi untuk menyediakan teknologi otomasi dari berbagai perangkat jaringan mereka. Unique value proposition yang ditawarkan Jawdat adalah platform agnostic yang mendukung environment operator yang multi-vendor, dengan menggunakan teknologi Software Defined Networking (SDN), workflow automation, dan advanced monitoring and telemetry. Jawdat sekarang mulai berfokus ke produk dan solusi Internet of Things (IoT) berbasis teknologi Big Data dengan infrastruktur yang berada di Cloud yang sudah di otomasi sepenuhnya, dan memiliki fitur Machine Learning untuk melakukan predictive analysis untuk menghasilkan business insight.

We Create Value When We Build Something

“The best of people are those that bring most benefit to the rest of mankind”
— Prophet Muhammad PBUH 

Untuk membuat produk software sendiri, walaupun software, tetap tidak mudah dan tidak murah. Hanya Jawdat menyadari ini harus dilakukan jika ingin memberi manfaat lebih besar. Membuat produk sendiri membutuhkan investasi modal uang dan waktu untuk melakukan Research & Development (R&D). Setelah sebelumnya team hanya berisi konsultan di bidang jaringan yang menawarkan servis konsultasi dan pelatihan, Jawdat Engineering dibentuk untuk menjawab kebutuhan customer yang memerlukan platform otomasi yang lebih sesuai dengan workflow mereka dan juga lebih ekonomis dibanding produk buatan vendor asing.

Hasilnya? Produk Dbots (FCM dan SSM) buatan Jawdat yang digunakan oleh TelkomTelstra selain membantu menurunkan biaya operasional sampai lebih dari 80%, juga banyak mendapat penghargaan seperti World Communication Award 2017ACA Innovation Award 2017, dan Stevie Winner Award 2017. David Gee, COO dari TelkomTelstra menuliskan penjelasan tentang Dbots di website Telstra. Ini hanya salah satu bukti bahwa Jawdat, dan anak-anak muda Indonesia, mampu membuat produk berkualitas untuk berkompetisi dengan produk buatan perusahaan asing.

Aset Terbesar Tech Startup Adalah Orang

“The biggest reason why startups succeed today is timing. The next reason, is the team”
— Bill Gross, TED2015 

Dalam laporan keuangan Desember 2016, Google menyatakan bahwa dari total 72053 pegawai tetap saat itu 27169 pegawai (~37%) melakukan Research & Development. Ini adalah kunci kesuksesan Google dalam membuat banyak produk seperti Maps dan Youtube yang digunakan lebih dari 1 milyar orang. Dan pegawai Google diberi kebebasan buat melakukan inovasi baru, produk seperti Gmail dimulai dari program 20% yaitu program yang memberi kesempatan 1 hari dalam seminggu untuk pegawai membuat sesuatu walaupun tidak berhubungan dengan pekerjaan yang dilakukan.

Sampai hari ini Jawdat masih memiliki persentase jumlah engineer lebih dari 60% dibandingkan jumlah pegawai untuk fungsi lain seperti sales dan operasional. Jawdat Engineering berisi orang-orang yang memiliki pengalaman yang bervariasi mulai dari perusahaan startup lain sampai perusahaan besar seperti Cisco Systems, Ericsson, Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Lintasarta, RCTI, Dimension Data, Packet System, Multipolar, dan lainnya. Ada yang latar belakang pendidikannya dari SMK sampai gelar Master di berbagai universitas di Indonesia sampai dari universitas di Inggris, Swedia dan Belanda.

Berbeda dengan ketika perusahaan hanya menawarkan jasa konsultasi dan pelatihan, dimana pendiripun bisa mengerjakan sendiri, untuk perusahaan yang berfokus membuat produk teknologi maka perlu membuat sistem agar para engineer bisa melakukan inovasi juga memiliki jalur yang jelas untuk mengembangkan karir mereka.

Rekrut orang-orang yang kompeten. Bangun team yang punya motivasi tinggi untuk membuat produk sendiri. Kemudian bikin sistem operasional perusahaan yang memfasilitasi mereka untuk berinovasi.
If you are not the time teller, be the clock maker.

Jangan Membangun Tech Startup di Indonesia

Kesimpulan akhir dari tulisan ini adalah, jangan membangun Tech Startup di Indonesia jika:

1. Tidak mau mempunyai misi yang lebih dari sekedar mencari profit
2. Tidak mau membuat produk atau servis baru yang memerlukan R&D
3. Tidak mau membangun team engineering dan membuat sistem operasional yang mendukung mereka untuk berinovasi

Dan buat yang tertarik untuk bergabung di tech startup seperti Jawdat, merasa memiliki misi yang sama, selalu ada posisi terbuka dari mulai junior software engineer sampai ke engineering team leader dan manager. Jawdat selalu mencari orang dengan integritas tinggi, mau bekerja keras di kondisi startup yang masih berubah-ubah, dan memiliki chemistry yang baik dengan anggota team Engineering lainnya.

Attitude is everything. Skill bisa di develop tapi tanpa integritas, seseorang tidak akan bisa mempertahankan reputasinya di dunia IT yang tergolong kecil.

Silahlan kirim CV berikut jawaban dari pertanyaan: “mengapa Jawdat Engineering harus menerima kamu?” ke recruitment@jawdat.com

No Comments

Post A Comment